Wayang selama ini identik dengan budaya Jawa. Namun di Yogyakarta pada awal abad ke-20, lahir sebuah bentuk seni pertunjukan unik yang memperlihatkan bagaimana budaya Jawa dan Tionghoa dapat berpadu secara harmonis. Kesenian itu dikenal sebagai Wayang Cina–Jawa, sebuah bentuk akulturasi budaya yang memperkaya tradisi pewayangan Nusantara.
Kemunculan wayang ini tidak lepas dari peran masyarakat Peranakan Tionghoa di Yogyakarta yang memiliki ketertarikan besar terhadap kebudayaan Jawa. Pada masa itu, beberapa tokoh Peranakan mulai aktif memperkenalkan dan menghidupkan kesenian Jawa di lingkungan masyarakat Tionghoa. Salah satu tokoh pentingnya adalah Lie Jing Kiem, cucu Lie Toen, yang dikenal rutin mengadakan pertunjukan gamelan dan wayang kulit terbuka bagi masyarakat umum.
Dengan bantuan para ahli dari lingkungan keraton, Lie Jing Kiem bahkan membuat seperangkat gamelan dan wayang kulit berkualitas tinggi. Upayanya menjadi bukti bahwa hubungan budaya antara masyarakat Tionghoa dan Jawa telah terjalin erat sejak lama, khususnya di Yogyakarta.
Memasuki tahun 1920-an, muncul inovasi baru dalam dunia pewayangan melalui karya seorang seniman Peranakan bernama Gan Thwan Sing. Ia menciptakan wayang bercorak Tionghoa dengan mengambil cerita rakyat dan legenda Cina sebagai lakonnya. Tokoh-tokohnya memiliki wajah, busana, dan gaya rambut khas Tionghoa, namun tetap dipadukan dengan bentuk visual wayang kulit Jawa.
Meski mengangkat kisah-kisah Cina, pertunjukan Wayang Cina–Jawa tetap menggunakan tata cara pedalangan Jawa. Pertunjukan diiringi gamelan, dalang duduk dengan posisi khas pewayangan Jawa, dan alur pertunjukan mengikuti pakem tradisional. Bahkan unsur penting seperti gunungan, barisan prajurit, hingga keberadaan emban tetap dipertahankan sebagaimana dalam wayang kulit purwa.
Keunikan lainnya terlihat pada detail artistik wayang ciptaan Gan Thwan Sing. Ragam hias, bentuk senjata, kapal, kereta, hingga hewan mitologi seperti liong dan kilin memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Tionghoa. Namun keseluruhan pertunjukan tetap terasa akrab dengan nuansa Jawa.
Menariknya lagi, naskah lakon wayang tersebut ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan aksara hanacaraka. Hal ini menunjukkan adanya proses pembauran budaya yang tidak sekadar visual, tetapi juga menyentuh bahasa dan tradisi sastra.
Wayang Cina–Jawa berkembang cukup luas dan bertahan hampir empat dekade, mulai sekitar tahun 1920-an hingga 1960-an. Pertunjukannya tidak hanya dikenal di Yogyakarta, tetapi juga menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Cirebon. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kesenian dapat menjadi ruang perjumpaan budaya yang cair dan saling menerima.
Lebih dari sekadar hiburan, Wayang Cina–Jawa menjadi bukti sejarah tentang harmonisasi sosial antara masyarakat Tionghoa, lingkungan keraton, dan masyarakat Jawa pada masa itu. Ada semangat untuk saling memahami bahasa, adat, dan budaya satu sama lain melalui seni pertunjukan.
Kini, Wayang Cina–Jawa menjadi salah satu jejak penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Ia memperlihatkan bahwa identitas budaya Nusantara dibentuk melalui proses panjang pertemuan, pertukaran, dan akulturasi berbagai peradaban. Dari panggung wayang, kita belajar bahwa perbedaan justru dapat melahirkan karya seni yang kaya dan bernilai tinggi. Sebanyak dua set, satu set lakon pewayangan saat ini tersimpan di Museum Sonobudoyo sedangkan satu set lainnya menjadi koleksi pribadi Dr. Walter Angst (Alm) di Jerman. WACINWA yang tersimpan di Museum Sonobudoyo berjumlah 412 buah yang terdiri dari 283 boneka wayang dan 139 kepala wayang.
Marie-Paule
26 Mei 2026 23:23 WIB J'espère avoir l'occasion d'assister à un spectacle lors de mon séjour à Yogyakarta en juin prochain!