Di balik kesederhanaannya, permainan bekel telah menjadi bagian dari masa kecil banyak anak di Indonesia selama beberapa generasi. Permainan ini tidak hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga melatih koordinasi tangan, kecepatan berpikir, dan konsentrasi. Dahulu, bekel kerap dimainkan di teras rumah, halaman sekolah, maupun ruang tamu, menjadikannya salah satu permainan tradisional yang mudah dimainkan tanpa memerlukan arena yang luas.
Bekel umumnya dimainkan oleh dua hingga empat orang anak, terutama pada rentang usia 7 hingga 12 tahun. Untuk memainkannya dibutuhkan sebuah bola bekel berukuran kecil dengan diameter sekitar tiga sentimeter serta sepuluh buah biji bekel. Pada masa lalu, biji bekel biasanya menggunakan kulit kerang kecil yang dikenal sebagai kewuk, sedangkan di beberapa daerah, terutama di wilayah Priangan, digunakan kepingan kuningan dengan bentuk tidak beraturan. Setiap sisi kuningan diberi tanda berbeda agar mudah dibedakan saat permainan berlangsung.
Sebelum permainan dimulai, para pemain menentukan giliran pertama melalui undian sederhana, seperti suten. Setelah urutan bermain ditentukan, setiap pemain harus menyelesaikan seluruh tahapan permainan secara berurut. Pemain yang mampu melewati seluruh babak tanpa melakukan kesalahan akan menjadi pemenang.
Tahap pertama merupakan inti permainan bekel. Pemain melambungkan bola ke udara, kemudian dengan cepat mengambil sejumlah biji bekel yang berada di lantai sebelum bola memantul kembali dan ditangkap. Pengambilan dilakukan secara bertahap, dimulai dari satu biji, kemudian dua sekaligus, tiga, dan seterusnya hingga seluruh biji berhasil diambil sesuai urutan yang telah ditentukan. Setiap tahap menuntut ketepatan waktu dan koordinasi gerakan yang semakin tinggi.
Setelah berhasil melewati tahap pengambilan, permainan berlanjut pada babak membalik biji bekel. Dalam tahap ini, pemain tetap melambungkan bola sambil membalik posisi seluruh kewuk atau kuningan dari satu sisi ke sisi lainnya. Proses tersebut dilakukan dua kali, yaitu membalik ke sisi pertama, kemudian kembali ke sisi berikutnya. Babak ini membutuhkan ketelitian karena posisi setiap biji harus berubah sesuai aturan permainan.
Tahap terakhir dikenal sebagai naspel. Pada babak ini, pemain kembali membalik biji bekel seperti pada tahap sebelumnya, namun tanpa mengambilnya satu per satu. Setelah seluruh biji berada pada posisi yang benar, pemain menyusunnya membentuk barisan, kemudian mengambil semuanya sekaligus sebelum kembali menyebarkannya untuk mengakhiri rangkaian permainan. Babak penutup ini menjadi ujian akhir bagi ketangkasan dan konsentrasi pemain.
Permainan akan berpindah kepada pemain berikutnya apabila seseorang melakukan kesalahan atau lasut. Kesalahan dapat terjadi ketika bola gagal ditangkap setelah dilambungkan, biji bekel yang sedang digenggam terjatuh, atau tangan tanpa sengaja menyentuh biji lain saat proses pengambilan, yang dalam permainan dikenal sebagai gudir. Karena itu, setiap gerakan harus dilakukan dengan cermat dan penuh perhitungan.
Lebih dari sekadar permainan, bekel mengajarkan banyak keterampilan penting bagi anak-anak. Permainan ini melatih koordinasi antara mata dan tangan, meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, melatih kesabaran, serta membangun sportivitas dalam menerima kemenangan maupun kekalahan. Kesederhanaan alat yang digunakan juga menunjukkan bagaimana permainan tradisional mampu menghadirkan hiburan yang mendidik tanpa bergantung pada teknologi.
Kini, permainan bekel memang tidak lagi sepopuler dahulu. Namun di berbagai kegiatan sekolah, festival budaya, hingga komunitas pelestari permainan tradisional, bekel masih terus diperkenalkan kepada generasi muda. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa permainan sederhana dapat memberikan pengalaman belajar yang berharga sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup selama puluhan tahun.