Bahasa Jawa dan Unggah-Ungguh: Sopan Santun yang Masih Hidup di Jogja

Jogja memang punya daya tarik yang nggak pernah habis. Selain gudeg dan Malioboro, ada satu hal lagi yang bikin kota ini istimewa: bahasa Jawa. Bukan cuma bahasa biasa, tapi bahasa yang punya tingkatan sopan santun—orang Jawa bilang "unggah-ungguh". Coba dengar obrolan di pasar atau warung makan, dari anak kecil sampai mbah-mbah, bahasa Jawa dengan aturan sopannya masih terasa banget. Di zaman yang serba cepat ini, ternyata unggah-ungguh masih jadi bagian hidup masyarakat Jogja. Keren, ya?

Unggah-ungguh itu soal cara kita ngomong sesuai situasi dan lawan bicara. Ada ngoko, yang santai buat temen sebaya atau yang lebih muda. Terus ada madya, tengah-tengah, biasa dipakai sama orang yang belum terlalu akrab. Nah, yang paling halus adalah krama, buat orang yang lebih tua atau dihormati. Misalnya, ngomong “mangan” (ngoko) bisa jadi “nedha” (krama) kalau sama kakek-nenek. Ini bukan cuma soal kata, tapi juga sikap hormat yang udah mendarah daging di budaya Jawa. Makanya, bahasa ini nggak cuma alat komunikasi, tapi juga cermin adab.

Di Jogja, unggah-ungguh ini masih dipakai sehari-hari, lho. Di Pasar Beringharjo, misalnya, pedagang bisa langsung ganti gaya ngomong. Sama pembeli yang kelihatan muda, mereka bilang, “Mbakyu, tuku sayuran iki piro?” pakai ngoko atau madya. Tapi kalau ketemu pembeli yang lebih tua, langsung meluncur krama, “Bapak, badhe tumbas menapa niki?” Halus banget, kan? Di keluarga juga gitu. Anak-anak diajarin pakai krama kalau ngomong sama orang tua, kayak “Bapak, kulo ajeng dolan.” Sederhana, tapi bikin suasana jadi hangat dan penuh hormat.

Bahkan di acara resmi, unggah-ungguh ini masih jadi bintang. Pernah dengar pidato pakai bahasa Jawa krama di pernikahan atau hajatan? MC-nya bisa bilang, “Para rawuh ingkang minulya, kula ngaturaken sugeng rawuh,” yang artinya “Para tamu terhormat, saya ucapkan selamat datang.” Nada dan pilihan katanya bikin acara terasa lebih khidmat. Tradisi ini hidup banget, sampai-sampai anak muda Jogja yang biasa pakai bahasa gaul pun kadang otomatis beralih ke krama kalau ketemu orang yang lebih senior.

Tapi, nggak bisa dipungkiri, ada tantangan buat jaga unggah-ungguh ini. Bahasa Indonesia dan slang kekinian mulai masuk ke obrolan sehari-hari. Banyak yang bilang, “Ngapain ribet pake krama, toh semua paham ngoko?” Eits, tapi di situlah letak keindahannya. Unggah-ungguh ini kayak warisan yang bikin Jogja beda.

Bayangin kalau semua cuma pakai bahasa sama rata, rasa hormat dan kepekaan budaya itu bisa luntur. Untungnya, masyarakat Jogja masih pegang erat tradisi ini, dari warung kopi sampai kampus. Jadi, lain kali ke Jogja, coba deh perhatiin cara orang ngomong. Dengar bedanya “arep” dan “badhe”, atau “mangan” dan “nedha”. Bahasa Jawa dengan unggah-ungguhnya ini bukti bahwa sopan santun nggak cuma di tindakan, tapi juga di kata-kata. Yuk, kita dukung biar tradisi ini terus hidup—siapa tahu, kamu juga bisa ikutan ngomong krama sama pedagang gudeg nanti.

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak