Kalau hari ini kita melihat kembang api sebagai penutup pesta yang meriah, sulit rasanya membayangkan bahwa semua itu bermula dari sebuah kegagalan. Bukan kegagalan biasa, tapi kegagalan para alkemis di Dinasti Tang yang sedang mencoba menemukan ramuan hidup abadi. Alih-alih keabadian, yang mereka temukan justru sesuatu yang jauh lebih “berisik”: bubuk mesiu.
Campuran kalium nitrat, sulfur, dan arang itu awalnya hanya eksperimen. Tapi ketika diuji, ia meledak menghasilkan cahaya, suara, dan percikan api yang tak terduga. Catatan Tiongkok abad ke-9 bahkan menyebut percobaan itu sampai membakar tangan, wajah, dan bangunan tempat eksperimen berlangsung. Dari situ, manusia mulai berkenalan dengan kekuatan baru: ledakan.
Menariknya, sebelum menjadi alat perang, bubuk mesiu justru punya fungsi yang lebih “spiritual”. Masyarakat Tiongkok Kuno percaya bahwa suara ledakan bisa mengusir roh jahat. Maka, mesiu dengan daya ledak rendah mulai digunakan dalam berbagai perayaan dari pernikahan hingga ritual keagamaan. Demi keamanan, mesiu kemudian dibungkus dalam bambu dan dilempar ke api. Dari sinilah lahir bentuk awal kembang api.
Seiring waktu, bentuknya berkembang. Bambu digantikan tabung kertas, sumbu diperhalus, dan lahirlah petasan seperti yang kita kenal sekarang. Namun di sisi lain, mesiu juga mulai dilirik untuk kepentingan militer. Pada masa Dinasti Song, teknologi ini dimanfaatkan dalam senjata seperti panah api, meriam, hingga granat untuk menghadapi invasi bangsa Mongol. Dari sinilah dua wajah mesiu mulai terlihat: sebagai hiburan dan sebagai alat perang.
Perjalanan mesiu tidak berhenti di Tiongkok. Seorang penjelajah Italia, Marco Polo, membawa pengetahuan tentang mesiu ke Eropa pada akhir abad ke-13. Dari sana, teknologi ini menyebar ke berbagai belahan dunia. Kembang api pun tetap hidup sebagai bagian dari perayaan. Salah satu pesta kembang api awal di Eropa tercatat dalam pernikahan Henry VII pada 1486.
Memasuki era berikutnya, kembang api menjadi bagian penting dari berbagai festival dunia dari perayaan keagamaan hingga hari nasional. Di Italia, bahkan muncul tradisi pertunjukan kembang api berskala besar untuk merayakan penobatan, kemenangan militer, dan peristiwa kerajaan. Pada abad ke-18, pertunjukan ini mencapai puncak popularitasnya sebagai tontonan publik.
Di Nusantara, tradisi petasan dibawa oleh komunitas Tionghoa yang menetap di Batavia. Menurut Alwi Shahab, pada abad ke-18, sekitar 30 persen penduduk Batavia adalah orang Tionghoa. Mereka membawa serta tradisi memasang petasan, yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal. Uniknya, di Betawi, petasan tidak hanya berfungsi sebagai pengusir roh jahat, tetapi juga sebagai “alat komunikasi” penanda adanya hajatan seperti pernikahan, khitanan, hingga perayaan keagamaan.
Bahkan, jumlah petasan yang dibunyikan bisa menjadi simbol status sosial. Semakin meriah bunyinya, semakin tinggi pula gengsi pemilik acara. Pada masa kolonial Belanda, petasan dijual luas di kawasan seperti Glodog, Senen, hingga Tanah Abang, dan penggunaannya meningkat saat perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus.
Dari ritual pengusir roh, alat perang, hingga hiburan massal, kembang api telah menempuh perjalanan panjang. Ia adalah contoh bagaimana sebuah penemuan yang awalnya lahir dari kegagalan bisa bertransformasi menjadi bagian penting dari budaya manusia di seluruh dunia.
Hari ini, setiap letupan di langit malam bukan hanya soal warna dan cahaya. Ia membawa jejak sejarah, percampuran budaya, dan cerita panjang tentang manusia yang selalu ingin merayakan hidup dengan cara yang, kadang, cukup meledak-ledak.