Sebelum membahas lebih jauh, menarik untuk melihat bagaimana kain-kain tradisional ini tidak hanya soal estetika, tetapi juga menyimpan aturan tak tertulis tentang kapan dikenakan, oleh siapa, dan dalam situasi seperti apa.
Tenun Lurik Liwatan
Sekilas, motif ini tampak sederhana garis-garis vertikal seperti lurik pada umumnya. Namun jika diperhatikan, ada pola berlapis: garis di sisi kiri dan kanan mengapit kelompok garis di tengah dengan warna berbeda. Dalam bahasa Jawa, “liwatan” berarti “dilewati”. Maknanya terasa ketika kain ini digunakan dalam ritual mitoni atau tujuh bulanan kehamilan. Ia bukan sekadar kain, tetapi simbol harapan agar segala hal buruk “terlewati” begitu saja, dan bayi dapat lahir dengan selamat.
Batik Truntum
Motif ini sering hadir diam-diam di balik momen besar: pernikahan. Dikenakan oleh orang tua pengantin, truntum melambangkan cinta yang kembali bersemi bukan cinta yang meledak-ledak, melainkan yang tumbuh pelan dan bertahan. Karena itu pula, motif ini terasa kurang tepat jika dibawa ke suasana duka. Ada konteks emosional yang melekat kuat di balik coraknya.
Celup Ikat Jumputan dan Tritik
Sebelum istilah “tie dye” menjadi tren global, masyarakat Nusantara sudah lebih dulu mengenal teknik serupa lewat jumputan dan tritik. Prosesnya relatif sederhana: kain diikat, dicelup, lalu dibuka untuk menghasilkan pola yang unik. Di berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan Selatan, Jawa, hingga Bali, teknik ini berkembang dengan ciri khas masing-masing. Di Surakarta, jumputan bukan hanya kain ia bagian dari identitas budaya yang hidup dalam keseharian.
Batik Parang
Motif ini bisa dibilang salah satu yang paling “berwibawa”. Garis-garis melengkung yang tersusun diagonal itu bukan sekadar pola, tetapi simbol kekuatan, keberanian, dan perlindungan. Tak heran jika dulu hanya kalangan bangsawan yang boleh mengenakannya. Bahkan arah diagonalnya pun memiliki aturan berbeda antara Yogyakarta dan Surakarta. Meski kini lebih bebas digunakan, ada semacam etika tak tertulis terutama saat berada di lingkungan keraton.
Lurik Dengklung
Di antara berbagai motif lurik, Dengklung punya peran yang cukup spesifik. Warna dasarnya hitam dengan pinggiran putih, sederhana tapi sarat fungsi. Dalam Upacara Adang di Keraton Surakarta, kain ini digunakan untuk membungkus dandang alat memasak nasi. Di sini, kain tidak lagi sekadar dikenakan, tetapi menjadi bagian dari proses ritual. Garis vertikalnya pun menyiratkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, seperti garis yang mengarah ke atas.
Selindung
25 Apr 2026 12:08 WIB Keren