Di Museum Sonobudoyo, tersimpan sebuah koleksi unik bernama Darpana, cermin kuno dari masa Hindu-Buddha yang bukan sekadar alat berhias. Benda ini menyimpan nilai spiritual dan menjadi bagian penting dalam praktik keagamaan masyarakat masa lampau.
Kata darpana berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti cermin. Berbeda dengan cermin modern berbahan kaca, darpana umumnya dibuat dari perunggu dengan bentuk bundar atau lonjong. Beberapa memiliki tangkai polos, sementara lainnya dihiasi ukiran indah yang menunjukkan nilai artistik tinggi.
Pada masa lalu, darpana digunakan kaum perempuan untuk berhias diri. Namun fungsi benda ini tidak berhenti sebagai alat pribadi. Dalam tradisi Hindu, khususnya di India dan Nusantara, darpana juga dipakai dalam upacara keagamaan sebagai media simbolis untuk “memandikan dewa”.
Konsep ritual tersebut dilakukan dengan memantulkan bayangan arca dewa melalui cahaya matahari ke permukaan cermin, lalu membasahinya dengan air. Pantulan cahaya itu dipercaya memiliki makna penyucian dan penghormatan terhadap sosok dewa yang dipuja.
Di masa kuno, cermin dianggap sebagai benda sakral karena mampu memantulkan cahaya dan bayangan manusia. Bahkan, cermin dipercaya memiliki kekuatan spiritual tertentu sehingga sering dijadikan simbol kekuasaan dan bekal kubur bagi tokoh penting.
Dalam ikonografi Hindu, terutama tradisi Siwaisme, darpana dikenal sebagai salah satu atribut Dewi Parwati, pasangan Dewa Siwa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, cermin juga menjadi atribut Dewi Tara yang melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan.
Jejak penggunaan cermin perunggu juga dapat ditemukan pada relief-relief candi di Jawa, seperti di Candi Jajaghu, Candi Surawana, hingga kawasan Gunung Pawitra. Hal ini menunjukkan bahwa darpana memiliki posisi penting dalam budaya dan spiritualitas masyarakat Nusantara masa lampau.
Menariknya, masyarakat Tuban pada masa lalu juga telah mengenal penggunaan darpana. Bukti tersebut terlihat dari temuan cermin kuno bermotif aksara kwadrat yang kini menjadi koleksi Museum Kambang Putih.
Kini, koleksi darpana di Museum Sonobudoyo tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi juga pengingat bahwa benda sederhana seperti cermin pernah memiliki makna religius, filosofis, dan simbolis yang sangat mendalam dalam kehidupan masyarakat kuno.