Di tengah aktivitas warga Kalurahan Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, masih bertahan sebuah tradisi kuliner yang telah diwariskan lintas generasi. Di kawasan yang dikenal sebagai sentra pengrajin besek bambu ini, aroma santan, gula Jawa, dan ketan yang dimasak perlahan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari dapur-dapur tradisional itulah lahir Jenang Alot dan Krasikan Mawar, dua sajian khas yang tidak hanya menawarkan cita rasa manis, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang masyarakat Jawa.
Jenang Alot merupakan salah satu bentuk jenang tradisional yang memiliki tekstur lebih lembut dibanding dodol, namun tetap padat dan kenyal. Sebutan "alot" merujuk pada sifatnya yang ulet, hasil dari proses memasak yang membutuhkan kesabaran tinggi. Adonan ketan, santan kelapa, dan gula Jawa harus terus diaduk secara manual selama tiga hingga empat jam menggunakan tungku kayu bakar. Teknik memasak yang masih dipertahankan hingga kini menghasilkan jenang dengan daya simpan yang cukup lama tanpa tambahan bahan pengawet.
Tradisi membuat jenang sendiri telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa lampau. Keberadaannya bahkan disebut dalam Prasasti Alasantan dan Prasasti Sangguran, yang menunjukkan bahwa jenang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak era Mataram Kuno. Pada masa itu, hidangan berbahan dasar beras ketan ini bukan sekadar makanan, melainkan juga hadir dalam berbagai upacara penting sebagai simbol doa, harapan, serta ungkapan rasa syukur.
Hingga sekarang, makna tersebut masih terjaga. Dalam berbagai tradisi Jawa, jenang hampir selalu hadir sebagai bagian dari prosesi adat. Jenang procotan misalnya, disajikan pada upacara tujuh bulan kehamilan sebagai doa agar proses persalinan berjalan lancar. Jenang abang menjadi bagian dari tradisi menyambut bulan Suro, sementara berbagai jenis jenang lainnya kerap hadir dalam acara pernikahan, kenduri, maupun selamatan keluarga.
Di Padukuhan Krompakan, tradisi ini terus dilestarikan oleh Ibu Samiyem dan Bapak Ponidi melalui usaha rumahan "Jenang Dodol dan Krasikan Mawar Bu Ponidi" yang telah berjalan sejak tahun 2005. Mereka tetap mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan kayu bakar dan pengadukan manual, karena meyakini metode tersebut menghasilkan cita rasa yang tidak dapat digantikan oleh mesin modern.
Selain Jenang Alot, mereka juga memproduksi Krasikan Mawar, makanan manis berbahan dasar ketan sangrai yang memiliki tekstur lebih kasar dengan warna cokelat yang lebih muda. Keduanya dibuat dari bahan-bahan alami tanpa tambahan pengawet sehingga tetap mempertahankan cita rasa tradisional yang autentik.
Menariknya, proses pembuatan jenang juga menjadi simbol kuat semangat gotong royong masyarakat. Mengaduk adonan selama berjam-jam bukan pekerjaan yang mudah dan hampir mustahil dilakukan sendirian. Karena itu, proses memasak sering menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi salah satu warisan penting di balik setiap potong jenang yang dihasilkan.
Di tengah berkembangnya Sendangmulyo sebagai sentra kerajinan besek bambu yang produknya dipasarkan hingga Bali dan berbagai daerah lain, Jenang Alot dan Krasikan Mawar turut menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat. Hidangan ini kerap menjadi oleh-oleh favorit wisatawan, terutama saat musim liburan, dengan harga sekitar Rp50.000 per kilogram.
Lebih dari sekadar makanan tradisional, Jenang Alot Sendangmulyo adalah pengingat bahwa sebuah resep mampu menyimpan sejarah, filosofi, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui proses yang sederhana namun penuh makna, masyarakat tidak hanya menjaga cita rasa warisan leluhur, tetapi juga merawat semangat kebersamaan yang telah mengakar selama berabad-abad.