Bulan Ramadan selalu punya cara untuk menyapa kita dengan kehangatan. Di tengah puasa yang penuh berkah, ada satu tradisi yang bikin malam-malam terakhir jadi makin istimewa, khususnya di malam ganjil menjelang Idulfitri. Namanya "Maleman". Kalau belum pernah dengar, bayangkan suasana malam yang ramai dengan doa, tawa, dan aroma makanan khas yang menggoda. Tradisi ini bukan cuma soal ibadah, tapi juga ajang silaturahmi yang bikin hati terasa penuh.
Maleman, seperti namanya, biasa digelar di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Masyarakat, terutama di Jawa, percaya ini waktu yang pas untuk mengejar Lailatul Qadar, malam seribu bulan yang penuh keajaiban. Tapi, Maleman bukan cuma soal buru-buru ibadah. Ada sisi lain yang bikin tradisi ini beda: kebersamaan. Dari kampung ke kampung, orang-orang berkumpul, salat tarawih bareng, zikir sampai larut, lalu tutup malam dengan makan bersama. Sesederhana itu, tapi rasanya? Istimewa banget.
Asal-usul Maleman sebenarnya nggak jauh dari budaya Jawa yang kental dengan gotong royong. Konon, dulu para ulama dan warga desa suka ngumpul di masjid atau musala buat nyanyi puji-pujian dan baca Al-Qur’an bareng. Lama-lama, kebiasaan ini jadi tradisi yang ditunggu-tunggu. Nggak heran kalau sekarang Maleman punya tempat spesial di hati banyak orang. Maknanya juga dalam: selain mendekatkan diri ke Allah, tradisi ini jadi jembatan buat eratkan tali persaudaraan. Di malam yang sunyi, tiba-tiba ramai oleh suara tahlil dan obrolan hangat antartetangga.
Pelaksanaan Maleman sendiri nggak ribet. Biasanya diawali dengan salat tarawih atau witir berjamaah. Habis itu, ada zikir dan doa bareng, kadang diselingi ceramah pendek dari ustaz setempat. Nah, bagian yang paling ditunggu biasanya datang setelahnya: makan bareng! Ada yang bawa ketupat, opor ayam, atau sekadar camilan seperti kolak dan kue-kue tradisional. Di beberapa tempat, anak-anak ikut meramaikan dengan main kembang api atau petasan kecil. Suasananya hidup, tapi tetap khusyuk.
Di zaman sekarang, Maleman mungkin nggak se-meriah dulu. Banyak yang bilang, “Ah, orang-orang sibuk, mana sempat ngumpul?” Tapi, nyatanya tradisi ini masih bertahan. Di desa-desa, Maleman tetap jadi momen yang dinanti. Bahkan di kota, ada komunitas atau keluarga yang sengaja bikin acara kecil-kecilan di rumah untuk lanjutkan kebiasaan ini. Lagi pula, di tengah kesibukan dan gadget yang bikin kita kadang lupa ngobrol sama tetangga, Maleman jadi pengingat: ada kebahagiaan sederhana yang cuma bisa dirasain kalau kita mau buka hati dan berkumpul.
Jadi, kalau Ramadan tahun ini kamu lagi di kampung atau punya kesempatan, coba deh ikutan Maleman. Nggak perlu mewah, yang penting niatnya tulus. Siapa tahu, di malam ganjil itu, kamu nggak cuma ketemu keberkahan, tapi juga cerita baru bareng orang-orang tersayang. Tradisi ini bukti bahwa budaya dan ibadah bisa jalan bareng, bikin Ramadan makin terasa hidup. Yuk, kita jaga bareng.