Ramadan tiba, dan suasana di Masjid Pathok Negara langsung berubah jadi istimewa. Lampu-lampu kecil menyala di pelataran, suara adzan magrib berkumandang, dan jamaah mulai berdatangan dengan wajah penuh semangat. Nah, kalau bicara soal tarawih, masjid-masjid bersejarah milik Kasultanan Yogyakarta ini punya pesona sendiri. Salah satunya Masjid Ploso Kuning, yang jadi pusat tarawih dengan tradisi lokal unik. Coba bayangkan, ibadah malam yang nggak cuma khusyuk, tapi juga penuh warna budaya Jawa. Menarik, kan?
Masjid Pathok Negara bukan masjid biasa. Dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I, keberadaannya jadi penanda batas wilayah keraton sekaligus pusat syiar agama. Ada lima masjid yang masuk kategori ini: Mlangi di barat, Ploso Kuning di utara, Dongkelan di selatan, Babadan di timur, plus Wonokromo yang agak beda posisi. Selain tempat ibadah, dulu masjid-masjid ini juga jadi benteng spiritual dan sosial buat warga. Makanya, sampai sekarang, tarawih di sini nggak cuma soal salat, tapi juga bawa cerita panjang dari masa lalu.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tradisi tarawih di Masjid Ploso Kuning. Di sini, tarawih digelar dengan 23 rakaat, gerakannya cepat, dan tanpa ceramah panjang. Yang bikin beda, jamaah masih melantunkan shalawat Jawi—puji-pujian dengan nada khas Jawa yang bikin suasana jadi syahdu banget. Arsitekturnya yang kuno, dengan atap tumpang dua dan kolam mengelilingi masjid, tambah bikin kita serasa melangkah ke zaman dulu. Di Masjid Mlangi, misalnya, tradisi serupa juga hidup, bahkan ada kesenian lokal seperti kojan atau rodad yang kadang menyemarakkan malam Ramadan. Sementara di Dongkelan atau Babadan, tarawih bisa bervariasi antara 11 atau 23 rakaat, tergantung komunitasnya. Unik, ya?
Tradisi ini bukan cuma soal ibadah, tapi juga cara warga sekitar jaga ikatan. Shalawat Jawi yang dilantunkan bareng, misalnya, bikin hati terasa adem, sekaligus jadi pengingat betapa kayanya budaya kita. Di Ploso Kuning, jamaah biasanya bersuci di kolam sebelum masuk masjid—kebiasaan sederhana yang udah turun-temurun. Lagi pula, momen tarawih di sini jadi ajang silaturahmi. Habis salat, kadang ada obrolan ringan sambil nikmati camilan khas Ramadan seperti kolak atau ketan. Rasanya, ibadah dan kebersamaan nyatu dalam satu waktu.
Di tengah gempuran modernitas, Masjid Pathok Negara, termasuk Ploso Kuning, masih kokoh berdiri sebagai saksi bisu sejarah. Tarawih di sini nggak cuma bikin kita dekat sama Allah, tapi juga sambungkan kita sama akar budaya leluhur. Makanya, kalau Ramadan datang, nggak ada salahnya mampir ke salah satu masjid ini. Dengar shalawat Jawi menggema, lihat kolam tua yang tenang, dan rasakan sendiri hangatnya tradisi lokal yang masih hidup. Yuk, kita ramaikan tarawih di Masjid Pathok Negara—siapa tahu, ini jadi pengalaman Ramadan yang nggak terlupa buat kamu.