Ada sesuatu yang menarik dari ketoprak. Di atas panggung, kita bisa diajak masuk ke kehidupan kerajaan, menyaksikan intrik para bangsawan, mendengar dialog berbahasa Jawa yang penuh unggah-ungguh, lalu tiba-tiba dibuat tertawa oleh tingkah pemain yang melontarkan banyolan. Perpaduan cerita, musik, dan humor inilah yang membuat ketoprak memiliki tempat tersendiri dalam kesenian tradisional Jawa.
Ketoprak dikenal sebagai seni teater tradisional yang berkembang di Jawa Tengah, khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, kesenian ini juga dikenal dengan sebutan Ketoprak Mataram. Pertunjukannya memadukan dialog, tembang, akting, dan dagelan yang diiringi musik gamelan. Ceritanya beragam, mulai dari legenda dan sejarah Jawa hingga kisah-kisah dari luar negeri.
Namun, ketoprak yang kita kenal sekarang tidak langsung lahir dalam bentuk pertunjukan panggung yang lengkap. Pada awalnya, kesenian ini berakar dari permainan rakyat yang dilakukan anak-anak ketika bulan purnama. Iringannya pun bukan gamelan megah, melainkan suara lesung, alat tradisional yang biasa digunakan untuk menumbuk padi.
Lesung dipukul secara berirama hingga menghasilkan bunyi yang khas. Permainan tersebut kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat yang memiliki makna tersendiri. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat petani Jawa, irama lesung dipercaya dapat memanggil Dewi Sri, sosok yang dikaitkan dengan kesuburan dan hasil panen. Dari sinilah ketoprak awal dikenal sebagai Ketoprak Lesung.
Pada masa itu, bentuk pertunjukannya masih sederhana. Cerita yang dibawakan berkaitan dengan kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan petani dan demang. Penerangan panggung pun masih mengandalkan obor. Meski begitu, kesederhanaan tersebut justru memperlihatkan kedekatan ketoprak dengan kehidupan rakyat.
Seiring berjalannya waktu, ketoprak mengalami banyak perubahan. Lesung yang semula menjadi pengiring utama mulai digantikan oleh gamelan Jawa. Musiknya semakin beragam, penggarapan cerita menjadi lebih rumit, dan unsur tari turut memperkaya pertunjukan. Ketoprak tidak lagi sekadar permainan dengan irama lesung, melainkan berkembang menjadi seni panggung yang memadukan berbagai unsur pertunjukan.
Perkembangan itu membuat ketoprak semakin mudah diterima oleh masyarakat luas. Cerita tentang kehidupan kerajaan dan keraton menjadi salah satu daya tariknya. Penonton bukan hanya menikmati alur cerita, tetapi juga bisa melihat gambaran kehidupan masa lalu melalui kostum, tata panggung, dialog, dan karakter para pemain.
Menurut catatan sejarah yang menjadi rujukan perkembangan kesenian ini, ketoprak mulai dapat dinikmati masyarakat umum pada 1922, ketika pertunjukannya berkembang di lingkungan Mangkunegaran, Surakarta. Sebelumnya, seni pertunjukan ini lebih terbatas pada lingkungan tertentu. Ketika mulai terbuka untuk khalayak ramai, ketoprak perlahan memperoleh ruang yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
Sayangnya, perjalanan ketoprak tidak selalu mulus. Pada 1942, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, pertunjukan ini sempat dilarang. Larangan tersebut berkaitan dengan pantun dan alur cerita yang dinilai menyindir pemerintahan Jepang. Peristiwa ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan tradisional bukan semata-mata hiburan. Cerita dan humor yang disampaikan dari atas panggung juga bisa menjadi cara masyarakat menyampaikan kritik.
Salah satu kekuatan ketoprak memang terletak pada kemampuannya menggabungkan cerita serius dengan humor. Adegan yang membahas konflik kerajaan dapat diselingi dagelan yang membuat suasana lebih cair. Penonton tidak harus terus-menerus mengikuti ketegangan cerita, sebab selalu ada ruang untuk tertawa dan menikmati kelucuan para pemain.
Dalam pertunjukan ketoprak, bahasa juga memiliki peran penting. Bahasa Jawa digunakan dengan memperhatikan unggah-ungguh atau tingkatan tutur sesuai kedudukan dan hubungan antartokoh. Ngoko Lugu dan Krama Inggil, misalnya, bukan sekadar pilihan kata. Keduanya membantu menunjukkan hubungan sosial, rasa hormat, dan posisi seseorang dalam cerita.
Unsur pertunjukannya pun tidak berhenti pada dialog. Ada musik, tembang, tari, akting, tata panggung, pencahayaan, rias, hingga kostum. Semua unsur tersebut bekerja bersama untuk membangun suasana dan menghidupkan cerita. Ketoprak pada akhirnya menjadi pertunjukan kolektif yang membutuhkan keterampilan banyak orang, baik yang tampil di depan penonton maupun yang bekerja di balik panggung.
Tema ceritanya juga tidak selalu terpaku pada sejarah Jawa. Legenda lokal dan kisah dari luar negeri dapat diolah menjadi pertunjukan ketoprak. Keluwesan ini memungkinkan ketoprak terus berkembang tanpa sepenuhnya meninggalkan ciri khasnya. Bahkan, dalam beberapa pertunjukan terdapat sesi hiburan yang ceritanya tidak berkaitan langsung dengan alur utama. Bagian ini menjadi ruang bagi pemain untuk menghibur penonton dengan adegan yang lebih ringan.
Ketika dunia hiburan berubah dan televisi mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ketoprak kembali menghadapi tantangan. Pada 1990-an, muncul ketoprak humor sebagai salah satu bentuk penyesuaian terhadap perkembangan selera penonton. Pertunjukan ini menghadirkan komedi dengan tetap membawa unsur khas ketoprak.
Kelompok yang dipelopori Timbul dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian penonton. Kehadiran Topan dan Lesus, kakak beradik yang dikenal piawai melontarkan humor, turut mewarnai masa kejayaan ketoprak humor. Ketika pertunjukannya ditayangkan di televisi, ketoprak mendapatkan kesempatan menjangkau penonton yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak tinggal dekat dengan panggung pertunjukan tradisional.
Perubahan medium ini penting. Kesenian tradisional tidak selalu harus bertahan dalam bentuk yang sama persis seperti ketika pertama kali muncul. Selama unsur utama dan karakter budayanya tetap dijaga, penyesuaian bisa menjadi salah satu jalan agar kesenian tersebut tetap dikenal oleh generasi baru.
Salah satu kelompok yang masih menjaga keberadaan ketoprak adalah Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya dari Yogyakarta. Keberadaan kelompok semacam ini menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional membutuhkan ruang pertunjukan, para pelaku yang terus berkarya, dan penonton yang bersedia meluangkan waktu untuk menikmatinya.
Pada akhirnya, ketoprak bukan hanya cerita tentang raja, pangeran, atau konflik di lingkungan keraton. Di dalamnya tersimpan cara masyarakat Jawa memandang bahasa, hubungan sosial, sejarah, humor, dan kehidupan. Dari bunyi lesung yang sederhana hingga gamelan dan tayangan televisi, perjalanan ketoprak memperlihatkan kemampuan sebuah kesenian untuk berubah mengikuti zaman.
Mungkin itulah yang membuat ketoprak layak terus dirawat. Ia tidak harus bersaing dengan hiburan modern dengan cara menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Cukup dengan terus diberi ruang untuk tampil, dikembangkan oleh para senimannya, dan diperkenalkan kepada generasi muda, ketoprak masih bisa menjadi jendela untuk mengenal kebudayaan Jawa serius ketika bercerita, tetapi tetap tahu kapan harus mengajak penontonnya tertawa.