Legenda Asal-Usul Kali Gajah Wong

Di sebelah timur Kota Yogyakarta, mengalir sebuah sungai yang dikenal dengan nama Kali Gajah Wong. Bagi sebagian orang, sungai ini mungkin hanya bagian dari lanskap kota yang dilewati setiap hari. Namun, di balik namanya, tersimpan sebuah cerita lama tentang seekor gajah milik Sultan Agung, seorang abdi dalem yang menggantikannya memandikan gajah, dan banjir bandang yang mengakhiri hidup keduanya.

Konon, kisah ini bermula ketika Kerajaan Mataram masih berpusat di Kotagede, sekitar tujuh kilometer di sebelah tenggara Kota Yogyakarta. Saat itu, kerajaan dipimpin oleh Sultan Agung, seorang raja yang memiliki pasukan dalam jumlah besar, termasuk prajurit berkuda dan pasukan gajah. Di lingkungan kerajaan, Sultan Agung juga memiliki banyak abdi dalem yang setia menjalankan tugasnya.

Salah satu abdi dalem tersebut bernama Ki Sapa Wira. Ia bertugas sebagai srati, yaitu orang yang merawat gajah kerajaan. Gajah yang menjadi tanggung jawabnya bernama Kyai Dwipangga. Konon, gajah yang berasal dari Siam itu memiliki tubuh besar, belalai panjang, serta gading putih yang berkilau. Setiap pagi, Ki Sapa Wira membawa Kyai Dwipangga ke sungai dekat keraton untuk dimandikan. Kebiasaan itu membuat sang gajah terbiasa dengan kehadiran dan perlakuan lembut Ki Sapa Wira. Di antara manusia dan hewan besar itu, terbangun hubungan yang didasarkan pada kebiasaan dan kepercayaan.

Namun, suatu hari Ki Sapa Wira mengalami bisul di ketiaknya. Rasa sakit itu membuatnya kesulitan bergerak, sehingga ia tidak sanggup menjalankan tugas seperti biasa. Ia kemudian meminta bantuan adik iparnya, Ki Kerti Pejok, untuk menggantikannya memandikan Kyai Dwipangga. Nama asli Ki Kerti Pejok sebenarnya adalah Kertiyuda. Menurut cerita, ia mengalami polio sejak lahir sehingga cara berjalannya pincang dan meliuk-liuk. Dalam istilah Jawa, keadaan tersebut disebut pejok. Julukan itulah yang kemudian melekat pada dirinya.

Pagi itu, Ki Kerti Pejok berangkat menuju sungai bersama Kyai Dwipangga. Ia membawa dua buah kelapa muda sebagai makanan untuk sang gajah. Mungkin ia berharap pemberian itu bisa membuat Kyai Dwipangga lebih mudah menurut, sebab memandikan hewan sebesar itu tentu bukan pekerjaan ringan bagi orang yang belum terbiasa. Sesampainya di jalan, Ki Kerti memberikan sebutir kelapa kepada Kyai Dwipangga. Dengan belalainya, gajah itu membanting kelapa tersebut ke sebuah batu besar hingga terbelah. Ia kemudian memakan kelapa itu dengan lahap. Kelapa kedua mengalami nasib serupa, dan sang gajah kembali menikmati makanannya.

Namun, sebelum kelapa kedua benar-benar habis, Ki Kerti sudah menyuruh Kyai Dwipangga untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan. Ia bahkan memukul pantat gajah itu dengan cemeti yang dibawanya. Sesampainya di sungai, Ki Kerti menyuruh Kyai Dwipangga berendam. Ia lalu mulai membersihkan tubuh gajah tersebut dengan menggosokkan daun kelapa ke kulitnya untuk menghilangkan lumpur yang menempel. Setelah merasa pekerjaannya selesai, ia membawa Kyai Dwipangga kembali dan menyerahkannya kepada Ki Sapa Wira.

Melihat gajahnya telah kembali, Ki Sapa Wira meminta bantuan Ki Kerti sekali lagi. Ia berharap adik iparnya itu bersedia memandikan Kyai Dwipangga pada keesokan pagi. Ki Kerti pun kembali menjalankan tugas tersebut. Pagi berikutnya, ia datang untuk menjemput Kyai Dwipangga. Langit tampak mendung, tetapi belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Mereka berdua kemudian berjalan menuju sungai seperti hari sebelumnya. Kali ini, Ki Kerti merasa kecewa ketika melihat air sungai yang tampak dangkal. Ia berpikir bagaimana mungkin gajah sebesar Kyai Dwipangga bisa berendam dengan nyaman jika airnya hanya sedikit. Sambil terus membawa gajah itu menyusuri sungai, ia mencari bagian yang lebih dalam ke arah hilir.

Gerutunya pun mulai terdengar. Menurutnya, sungai sekecil itu tidak cocok dijadikan tempat memandikan gajah. Sambil mengomel, ia tetap menggosok punggung Kyai Dwipangga agar tubuh hewan tersebut bersih. Namun, sebelum keluhannya selesai, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Dari arah hulu, banjir bandang datang dengan deras. Air yang tiba-tiba meluap menyeret Ki Kerti Pejok bersama Kyai Dwipangga. Ki Kerti berusaha meminta pertolongan sambil melambaikan tangan, tetapi derasnya arus membuat keduanya tidak mampu menyelamatkan diri.

Menurut legenda tersebut, mereka hanyut mengikuti aliran sungai hingga mencapai Laut Selatan. Tidak ada seorang pun yang berhasil menolong mereka. Ki Kerti Pejok dan Kyai Dwipangga akhirnya meninggal dalam peristiwa itu. Kabar tentang kejadian tragis tersebut sampai kepada Sultan Agung. Untuk mengenang peristiwa yang merenggut nyawa seorang manusia dan seekor gajah itu, sang sultan konon memberikan nama Gajah Wong kepada sungai tersebut. Nama itu berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: gajah, yang merujuk pada Kyai Dwipangga, dan wong, yang berarti manusia. Dengan demikian, Kali Gajah Wong menjadi pengingat akan kisah dua makhluk yang terseret banjir pada hari yang naas itu.

Konon, lokasi tempat Ki Kerti Pejok biasa memandikan Kyai Dwipangga berada tidak jauh dari kawasan yang sekarang bersebelahan dengan Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta. Seperti banyak legenda yang diwariskan turun-temurun, kisah Kali Gajah Wong bukan sekadar cerita tentang asal-usul sebuah nama. Di dalamnya terdapat gambaran kehidupan pada masa Kerajaan Mataram, hubungan antara abdi dalem dan penguasa, serta kepercayaan masyarakat dalam menjelaskan nama-nama tempat di sekitarnya.

Hari ini, Kali Gajah Wong menjadi bagian dari kehidupan Kota Yogyakarta yang terus berkembang. Orang-orang melintasi jembatan di atasnya, tinggal di dekat alirannya, atau sekadar melihatnya sebagai sungai yang membelah kawasan perkotaan. Tidak semua orang mungkin mengetahui cerita Ki Kerti Pejok dan Kyai Dwipangga yang melekat pada namanya.

Namun, legenda itu mengingatkan kita bahwa nama sebuah tempat kadang menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat. Di balik aliran sungai yang terus bergerak, ada kisah tentang manusia, hewan, bencana, dan ingatan masyarakat yang bertahan dari generasi ke generasi.

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak