Sejak sekitar 500 SM, ketika manusia Nusantara mulai akrab dengan teknik peleburan dan pencetakan logam, lahirlah berbagai benda yang bukan hanya fungsional, tetapi juga simbolik. Dari peralatan rumah tangga, senjata, hingga perlengkapan ritual, kerajinan logam menjadi penanda bahwa peradaban telah bergerak maju. Di antara sekian banyak hasilnya, ada satu benda yang mungkin tampak sederhana, namun menyimpan jejak panjang sejarah: bokor.
Bokor adalah wadah cekung berbahan logam perunggu, kuningan, atau campuran lain yang telah dikenal sejak masa Hindu-Buddha. Pada masa itu, ia digunakan sebagai tempat sesaji, air suci, bunga, atau perlengkapan upacara lain. Dalam relief candi-candi kuno, bentuknya kerap tampak di tangan pendeta atau diletakkan di altar. Ia bukan sekadar mangkuk logam, melainkan bagian dari tata laku spiritual.
Jika diperhatikan lebih dekat, keindahan bokor tak hanya terletak pada bentuknya yang simetris. Permukaan luarnya sering dihiasi ragam ornamen: pola geometris, sulur-suluran, hingga motif flora seperti teratai. Motif teratai sendiri dalam tradisi Hindu-Buddha melambangkan kesucian bunga yang tumbuh dari lumpur namun tetap bersih dan anggun. Ornamen-ornamen itu bukan hiasan kosong. Ia adalah bahasa simbol yang dipahat dengan sabar, diwariskan dari generasi ke generasi pengrajin.
Teknik pembuatannya pun bukan perkara sepele. Logam dilebur pada suhu tinggi, lalu dicetak atau ditempa hingga membentuk cekungan yang proporsional. Setelah itu barulah tahap ukir dilakukan dengan ketelitian yang menuntut kesabaran. Setiap guratan mengandung kehati-hatian, sebab satu kesalahan kecil bisa merusak keseluruhan permukaan. Di titik ini, bokor bukan hanya benda pakai, tetapi karya seni.
Menariknya, meski zaman telah berganti dan fungsi ritual tak lagi sama seperti berabad lalu, bokor tetap menemukan tempatnya dalam tradisi hari ini. Dalam upacara Panggih Manten pada pernikahan adat Jawa, misalnya, bokor diisi air dan kembang setaman. Ia menjadi bagian dari rangkaian simbol yang memaknai pertemuan dua insan dalam ikatan suci. Air melambangkan kesucian dan ketenangan, bunga menandakan keharuman doa. Bokor menjadi wadah yang merangkum harapan keluarga dan keberlanjutan garis keturunan.
Di Bali, bokor juga hadir dalam berbagai upacara keagamaan Hindu. Ia diletakkan di pelinggih atau dibawa dalam prosesi sebagai penampung tirta dan bunga persembahan. Keberadaannya menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar ingatan masa lalu, tetapi praktik yang terus dijalankan.
Hingga kini, kerajinan bokor masih dijaga oleh para perajin di berbagai daerah. Di Bali, wilayah seperti Buleleng dan Klungkung dikenal sebagai sentra pengrajin logam yang mempertahankan teknik tradisional. Di Jawa, Boyolali juga menjadi salah satu daerah yang meneruskan warisan ini. Di bengkel-bengkel sederhana, denting palu pada logam masih terdengar ritme yang sama seperti ratusan tahun silam.
Di tengah arus modernisasi dan produksi massal, bokor mungkin tampak kecil dan tak mencolok. Namun justru dalam kesederhanaannya, ia menyimpan perjalanan panjang peradaban: tentang kepercayaan, seni, teknologi, dan kesinambungan budaya. Ia mengingatkan bahwa sejarah tak selalu berdiri megah dalam bentuk candi atau istana. Kadang, ia hadir diam-diam dalam sebuah wadah cekung yang setia menampung air, bunga, dan doa.
Sebuah benda kecil, tetapi memuat cerita besar tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Kita bisa melihat bokor kuno warisan sejarah ini Museum Sonobudoyo.