Puasa: Dari Ramadhan ke Nyepi, dari Saum ke Upawasa

Bagi sebagian besar orang Indonesia sekitar 88 persen beragama Islam kata “puasa” hampir otomatis merujuk pada Ramadhan. Sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, malamnya diisi tarawih, lalu ditutup dengan takbir dan pelukan maaf saat Idul Fitri. Di sini kita menyebutnya Lebaran; di Malaysia orang menyapanya Raya. Satu Syawal menjadi penanda: selesai sudah latihan menahan diri, saatnya kembali ke fitrah, setidaknya begitu yang diyakini.

Padahal, puasa tak sesederhana satu bulan dalam setahun. Dalam Islam sendiri ada puasa Arafah, Senin-Kamis, hingga Daud. Intinya sama: menahan makan dan minum selama jam-jam tertentu, sekaligus meredam dorongan yang kurang baik. Definisinya ringkas, praktiknya tidak selalu mudah.

Menariknya, laku serupa ternyata hidup di banyak tradisi. Dalam Katolik, ada masa pantang dan puasa selama 40 hari menjelang Paskah, dengan Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai hari yang lebih ketat. Dalam Hindu terutama di Bali Nyepi menghadirkan bentuk puasa yang bahkan melampaui soal makan dan minum. Selama 24 jam, orang tidak bepergian, tidak menyalakan api atau cahaya, tidak bekerja, bahkan tidak mencari hiburan. Hening dijadikan ruang penyucian.

Tahun 2023 pernah menghadirkan momen langka: Ramadhan, masa Prapaskah Katolik, dan rangkaian Nyepi beririsan waktunya di Maret–April. Seolah-olah berbagai jalan spiritual itu berjalan berdampingan dalam kalender yang sama, meski berangkat dari keyakinan berbeda.

Di Jawa, puasa bahkan punya ragamnya sendiri. Ada pasa mutih makan hanya nasi putih tanpa lauk. Ada pasa ngrowot bertahan dengan umbi-umbian dan sayur. Ada pula pasa ngebleng tidak makan dan minum sehari semalam penuh, kadang dijalani beberapa hari berturut-turut. Laku ini biasanya ditempuh atas inisiatif pribadi, sebagai cara menempa diri. Tidak selalu terkait kewajiban agama formal, tapi lebih pada pencarian batin.

Kalau ditelusuri lebih jauh, istilah “puasa” sendiri menyimpan jejak panjang bahasa. Dalam Arab dikenal kata saum, yang diserap menjadi “siyam”. Namun dalam keseharian, orang Indonesia lebih akrab dengan “puasa”, orang Jawa dengan “pasa”. Kata-kata ini diduga berakar dari “upawasa” dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuna, yang berasal dari Sanskerta “upavasa”.

Dalam A Comprehensive Indonesian-English Dictionary karya Alan M. Stevens dan A. Ed Schmidgall-Telling, keterkaitan itu dicatat jelas. Sementara dalam Monier-Williams Sanskrit English Dictionary, “upavasa” dimaknai sebagai berpuasa. Lebih dalam lagi, Puranic Encyclopedia memaknai upavasa sebagai tindakan menjauh dari dosa dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Artinya, sejak awal, puasa bukan cuma soal perut kosong, melainkan soal arah hidup.

Jejak Sanskerta itu bahkan terasa dalam kalender Jawa ciptaan Sultan Agung pada 1633. Kalender ini memadukan sistem Hijriyah dengan penanggalan Saka. Menariknya, bulan Ramadhan tidak dinamai “Ramadhan” dalam versi Jawa tersebut. Ia disebut “Pasa”. Seolah-olah istilah lokal yang berakar panjang itu dipilih untuk menandai bulan paling sakral dalam tradisi Islam Jawa.

Pada akhirnya, puasa di Nusantara bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah simpul dari perjumpaan agama, budaya, dan bahasa yang saling berlapis. Dari Ramadhan hingga Nyepi, dari saum hingga upawasa, kita melihat satu benang merah: manusia selalu mencari cara untuk berhenti sejenak, menahan diri, lalu kembali dengan kesadaran yang lebih jernih.

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak