Dalam dunia pewayangan dan kisah epik Ramayana, Jatayu dikenal bukan sekadar sebagai seekor burung raksasa. Ia adalah simbol keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap kebenaran. Meski hadir sebagai tokoh mitologis, kisah Jatayu tetap hidup hingga hari ini, bahkan diwujudkan dalam bentuk patung raksasa di Jatayu Earth’s Centre di Kerala, India. Kehadiran monumen tersebut menunjukkan bahwa sosok Jatayu bukan hanya bagian dari cerita kuno, tetapi juga simbol budaya yang terus diwariskan lintas generasi.
Dalam silsilah mitologi Hindu, Jatayu merupakan putra Aruna dan keponakan Garuda. Ia juga saudara dari Sampati. Karena hubungan itu, bentuk Jatayu sering dianalogikan dengan Garuda, burung sakral yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan. Di Indonesia sendiri, terutama dalam tradisi Jawa, visualisasi Garuda kerap dikaitkan dengan Elang Jawa, satwa endemik yang dikenal gagah dan memiliki karakter kuat. Hubungan simbolik ini membuat figur Jatayu terasa dekat dengan budaya Nusantara.
Dalam berbagai relief candi, wayang purwa, maupun seni pertunjukan tradisional, bentuk Jatayu memang berbeda-beda. Namun secara filosofis, semuanya tetap menampilkan karakter utama yang sama: keberanian, cahaya kebijaksanaan, dan keteguhan hati. Sosoknya digambarkan sebagai burung perkasa yang rela mempertaruhkan nyawa demi menolong orang lain.
Kisah paling terkenal tentang Jatayu muncul dalam wiracarita Ramayana. Saat Dewi Sita diculik Rahwana dan dibawa terbang menuju Alengka, Jatayu menjadi satu-satunya makhluk yang berani menghadang sang raja raksasa. Dengan kepakan sayapnya yang besar, Jatayu menyerang kereta Rahwana di udara. Ia mencakar, menghantam, dan berusaha membebaskan Dewi Sita meski sadar lawannya jauh lebih kuat.
Pertarungan itu menjadi salah satu adegan heroik dalam Ramayana. Dalam beberapa versi cerita, Rahwana akhirnya menebaskan pedangnya ke sayap Jatayu hingga tubuh burung raksasa itu jatuh ke tanah dengan luka parah. Meski kalah secara fisik, Jatayu tetap dianggap menang secara moral karena keberaniannya membela kebenaran dan melindungi yang lemah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Jatayu sempat memberi tahu Rama tentang arah pelarian Rahwana. Informasi itulah yang kemudian membantu Rama melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan Dewi Sita. Dari sini, Jatayu tidak hanya dipandang sebagai tokoh pembantu dalam cerita, tetapi juga lambang pengorbanan tanpa pamrih.
Dalam tradisi Jawa, karakter wayang dibentuk berdasarkan sifat dan narasi tokohnya. Karena itu, sosok Jatayu selalu divisualisasikan dengan tubuh besar, sayap kuat, paruh tajam, dan ekspresi gagah. Semua elemen itu menggambarkan sifatnya sebagai penjaga kebenaran sekaligus pelindung.
Menariknya, nilai-nilai yang melekat pada Jatayu masih relevan hingga sekarang. Sosoknya mengajarkan bahwa keberanian bukan soal menang atau kalah, melainkan kesediaan untuk bertindak demi sesuatu yang benar. Ia juga menunjukkan bahwa pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai luhur yang melampaui zaman.
Dari relief candi hingga panggung wayang, dari kitab kuno hingga patung raksasa modern di India, Jatayu terus hidup sebagai simbol keberanian yang tak lekang oleh waktu. Seekor burung mitologi yang bukan hanya terbang dalam cerita, tetapi juga dalam ingatan budaya masyarakat Asia hingga hari ini. Museum Sonobudoyo juga memiliki koleksi topeng Jatayu yang memiliki ciri-ciri fisik yaitu berjamang, dahi menyempit, alis tipis, mata plolon, paruh panjang, terdapat gigi, warna kuning keemasan. Kunjungi Museum Sonobudoyo lebih lanjut untuk mengenal sejarah.
Marie-Paule
26 Mei 2026 23:26 WIB Très intéressant