Membentang hampir 31 kilometer dari Sungai Progo di sebelah barat hingga Sungai Opak di timur, Selokan Mataram merupakan salah satu infrastruktur bersejarah yang memiliki peran besar dalam perkembangan Yogyakarta. Saluran irigasi ini melintasi enam kapanewon di Kabupaten Sleman, yaitu Tempel, Seyegan, Mlati, Gamping, Depok, dan Kalasan. Hingga kini, aliran airnya masih menjadi penopang kehidupan pertanian sekaligus saksi perjalanan panjang sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pembangunan Selokan Mataram dimulai pada masa Pendudukan Jepang, sekitar 1942–1945. Proyek ini lahir ketika Yogyakarta menghadapi tekanan akibat Perang Dunia II dan kebijakan kerja paksa (romusha) yang diberlakukan oleh pemerintah militer Jepang. Dalam situasi tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengajukan usulan pembangunan saluran irigasi dengan alasan meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah Yogyakarta. Usulan itu diterima oleh pemerintah pendudukan, yang kemudian mengalokasikan dana sekitar satu juta gulden untuk merealisasikan proyek tersebut. Pada masa itu, saluran ini dikenal dengan nama Gunsei Y?suiro, yang berarti saluran irigasi milik pemerintahan militer Jepang.
Selama bertahun-tahun berkembang kisah bahwa pembangunan Selokan Mataram merupakan strategi cerdas Sultan Hamengku Buwono IX untuk melindungi rakyatnya dari pengiriman sebagai romusha ke berbagai daerah di luar Yogyakarta. Dengan melibatkan ribuan penduduk dalam pembangunan saluran irigasi, kebutuhan tenaga kerja lokal dianggap telah terpenuhi sehingga jumlah warga yang dikirim sebagai pekerja paksa dapat ditekan. Kisah ini kemudian menjadi bagian penting dalam memori kolektif masyarakat Yogyakarta.
Namun, sejumlah kajian sejarah modern memberikan sudut pandang yang lebih seimbang. Pembangunan Selokan Mataram dipahami sebagai bentuk hubungan yang saling menguntungkan antara Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Jepang. Bagi Jepang, saluran irigasi ini berfungsi meningkatkan hasil produksi pertanian yang dibutuhkan untuk mendukung logistik perang. Sementara bagi Yogyakarta, proyek tersebut memberikan manfaat besar berupa pembangunan infrastruktur pertanian sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sehingga dampak kebijakan romusha dapat diminimalkan.
Lebih jauh lagi, Selokan Mataram tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang sektor agrikultur Yogyakarta. Sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat industri gula di Jawa dengan puluhan pabrik gula yang didukung oleh jaringan perkebunan tebu. Meskipun industri tersebut mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi dunia dan Perang Dunia II, pembangunan Selokan Mataram mencerminkan upaya mempertahankan pertanian sebagai fondasi utama perekonomian daerah. Semangat tersebut kemudian berlanjut setelah Indonesia merdeka melalui pembangunan Pabrik Gula Madukismo, yang memanfaatkan sebagian kawasan bekas industri gula pada masa kolonial.
Selama hampir delapan dekade, Selokan Mataram terus menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian. Airnya dimanfaatkan untuk mengairi sawah, mendukung budidaya perikanan air tawar, serta menjaga ketersediaan air bagi masyarakat di sekitarnya. Keberadaannya menjadi salah satu alasan mengapa kawasan pertanian di Yogyakarta mampu bertahan dan berkembang hingga sekarang.
Perubahan zaman turut mengubah wajah kawasan di sepanjang Selokan Mataram. Jika dahulu saluran ini dikelilingi hamparan sawah dan kebun, kini banyak kawasan telah berkembang menjadi permukiman, pusat perdagangan, kawasan wisata, hingga lingkungan pendidikan. Sejumlah perguruan tinggi besar, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta, STIE YKPN, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, berdiri tidak jauh dari aliran selokan ini. Meski lingkungan sekitarnya terus berubah, Selokan Mataram tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber kehidupan sekaligus pengingat akan kecerdikan, kerja sama, dan ketahanan masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi masa-masa sulit.