Bedhaya: Tarian Sunyi yang Hanya Menyapa Raja

Di dalam tembok istana Jawa, ada satu tarian yang tidak sekadar ditonton ia dihormati, dijaga, bahkan “dipelihara” kesakralannya. Namanya Bedhaya. Bukan tarian yang bisa dipentaskan sembarangan, bukan pula tontonan untuk publik luas. Ia lahir, tumbuh, dan hidup dalam ruang sunyi keraton.

Di lingkungan istana, Bedhaya hanya dipagelarkan pada momen-momen yang benar-benar penting: penobatan raja (jumeneng dalem), peringatan kenaikan tahta (jumenengan), ulang tahun raja (tumbuk yuswa), pernikahan agung keluarga kerajaan (pawiwahan ageng), atau penyambutan tamu yang sangat dihormati. Itu pun dengan penonton yang terbatas dan terpilih. Keraton memang “pelit” soal Bedhaya dan justru di situlah letak wibawanya.

Setiap Istana, Setiap Cerita

Tradisi Bedhaya tidak hanya hidup di satu istana. Di Kasunanan Surakarta dikenal Bedhaya Ketawang dan Bedhaya Sumregdi. Di Kasultanan Yogyakarta ada Bedhaya Semang dan juga Sumregdi versi Yogya. Sementara itu, Kadipaten Mangkunegaran memiliki Bedhaya Anglir Mendung, dan Kadipaten Pakualaman mengenal Bedhaya Tejanata.

Itu baru sebagian kecil. Masing-masing istana mengembangkan Bedhaya versinya sendiri. Bahkan di Yogyakarta saja, jumlahnya tidak kurang dari tiga puluh jenis. Penamaannya biasanya mengikuti nama gendhing pengiringnya, meski ada pula yang diambil dari kisah atau nilai yang ingin disampaikan lewat geraknya.

Bedhaya bukan sekadar koreografi. Ia adalah teks yang ditulis lewat tubuh.

Sembilan Penari, Sembilan Arah

Pakem Bedhaya di dalam keraton hampir selalu melibatkan sembilan penari. Jika dipentaskan di luar istana, jumlah itu biasanya dikurangi menjadi tujuh atau enam sebagai penyesuaian sekaligus bentuk penghormatan pada aturan aslinya.

Angka sembilan bukan angka sembarangan. Dalam falsafah Jawa yang banyak menyerap ajaran Hindu terdapat konsep Nawasanga, sembilan dewa penjuru mata angin: Wisnu di utara, Iswara di timur, Brahma di selatan, Mahadewa di barat, Siwa di pusat, dan dewa-dewa lain yang menjaga arah di antaranya. Sembilan arah ini melambangkan keseimbangan kosmos, hubungan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta).

Maka sembilan penari Bedhaya bukan hanya sembilan tubuh yang bergerak serempak. Mereka adalah simbol tubuh manusia itu sendiri. Setiap posisi memiliki nama dan makna:
Batak (jiwa dan pikiran), Jangga atau Gulu (leher), Dada (dada), Endel Ajeg (hasrat), Apit Ngarep (lengan kanan), Apit Mburi (lengan kiri), Buncit (organ reproduksi), Endel Weton (kaki kanan), dan Apit Meneng (kaki kiri).

Tubuh manusia direpresentasikan sebagai satu kesatuan yang harus selaras. Bedhaya, pada akhirnya, adalah meditasi yang bergerak tentang bagaimana manusia menata dirinya agar seimbang, sebelum berharap dunia ikut seimbang.

Foto : Gatot RRI

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak