Ada semacam kebetulan yang terasa manis: gerbang selatan kraton di Solo dan Jogja sama-sama bisa menjadi kompas bagi pencari makan legendaris. Dari Gapura Gading Kraton Kasunanan Surakarta maupun Plengkung Gading Kraton Kasultanan Yogyakarta, kita tak perlu melangkah jauh untuk menemukan sajian yang sudah melewati puluhan tahun bahkan generasi. Jaraknya tak sampai setengah kilometer. Cukup jalan kaki sebentar, dan sejarah sudah mengepul dari mangkuk atau piring di hadapan kita.
Di Solo, sekitar 400 meter ke selatan dari Gapura Gading, berdiri Warung Soto Ayam Gading 1. Warung ini bukan sekadar tempat makan, melainkan titik mula dari nama besar “Soto Gading”. Sejak 1975, warung inilah yang menjadi perintis, meneruskan usaha yang sudah dirintis keluarga sejak 1969 di Pasar Ngapeman. Dari dapur sederhana milik almarhum Suharno Siswomartono, kuah bening soto ayam itu pelan-pelan menjelma jadi legenda kota.
Nama “Soto Gading” kini memang bercabang. Ada beberapa kedai lain yang masih satu trah, meneruskan resep yang sama. Namun yang pertama selalu punya aura berbeda. Di warung inilah nama besar itu dibesarkan. Sejak dekade 1980-an, ia dikenal sebagai langganan para presiden dari Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo. Bagi warga Solo, pemandangan Jokowi mampir untuk sarapan soto dulu bukan hal aneh. Soto di sini memang sederhana kuahnya bening, rasanya ringan tapi justru itu yang bikin orang kembali. Kini estafetnya sudah sampai generasi ketiga. Separuh abad lebih, dan wangi kaldunya belum kehilangan daya tarik.
Beranjak ke Jogja, suasananya berbeda tapi nadanya serupa. Sekitar 100 meter di utara Plengkung Gading, ada Warung Brongkos Handayani yang juga berdiri sejak 1975. Letaknya di sisi barat Jalan Gading, tak jauh dari Alun-alun Kidul. Dari luar tampak biasa saja. Tapi di dalamnya, semangkuk brongkos bisa membuat orang diam sejenak.
Brongkos bukan hidangan yang bisa dibilang ringan. Kuahnya kental dan gelap karena santan dan keluak. Isinya beragam: kacang tolo, tahu, kadang koyor atau daging sapi, telur rebus, dan bahan-bahan lain yang membuat rasanya medhok gurih dan manis bertemu, dengan selipan pedas yang tak berisik tapi terasa. Warung ini didirikan pasangan Adiyo Oetomo dan Sartiyem, dan nama “Handayani” diambil dari anak bungsu mereka. Sederhana, personal, seperti kebanyakan cerita kuliner lama di Jawa.
Menariknya, dua tempat ini lahir di tahun yang sama: 1975. Seolah-olah era itu memang subur bagi warung makan yang kemudian menua dengan terhormat. Dari dua gerbang gading di Solo dan Jogja kita belajar satu hal kecil: kadang yang paling bertahan bukan bangunan megahnya, melainkan rasa yang dirawat saban hari.