Kalau dengar kata “labuh”, yang terbayang biasanya ya membuang sesuatu ke laut atau ke sungai. Tapi di Yogyakarta, kata ini naik kelas jadi sebuah upacara sakral yang disebut Labuhan. Bukan sekadar buang-buang barang, tapi lebih ke doa agar semua sifat buruk bisa ikut hanyut bersama benda-benda yang dilabuh.
Benda-benda itu disebut ubarampe labuhan. Uniknya, beberapa di antaranya adalah barang pribadi milik Sultan. Jadi kalau biasanya orang buang barang karena rusak, di Keraton Yogyakarta justru barang yang masih berharga ikut jadi bagian dari persembahan.
Seiring waktu, cara merayakan Labuhan juga ikut berubah. Di masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, misalnya, upacara ini tidak lagi untuk memperingati Jumenengan Dalem (penobatan Sultan), tapi dialihkan untuk merayakan ulang tahun Sultan berdasarkan kalender Jawa—disebut Wiyosan Dalem. Baru pada masa Sultan Hamengku Buwono X, tradisi ini dikembalikan lagi ke makna awalnya: memperingati Jumenengan Dalem.
Jadwalnya pun sudah tetap: setiap tahun, Labuhan digelar sehari setelah puncak Jumenengan Dalem, tepatnya tanggal 30 Rejeb.
Labuhan tidak dilakukan sembarangan tempat. Ada lokasi-lokasi khusus yang disebut petilasan, tempat bersejarah yang punya kaitan erat dengan berdirinya Keraton Yogyakarta. Melabuh di petilasan ini bukan hanya soal ritual, tapi juga wujud penghormatan pada leluhur, semacam “napak tilas” perjuangan para pendiri kerajaan.
Ada beberapa jenis Labuhan, masing-masing dengan kisahnya sendiri:
Labuhan Parangkusumo
Pantai Parangkusumo di selatan Jogja bukan sekadar tempat liburan, tapi tapak sejarah. Di sinilah Panembahan Senopati, pendiri Mataram, bertapa minta petunjuk agar bisa memimpin dengan bijak. Konon, ia bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut selatan, yang berjanji akan membantu Senopati dan keturunannya. Dari sinilah lahir sebuah ikatan spiritual yang sampai sekarang masih dipercaya jadi salah satu dasar hubungan Keraton dengan Laut Selatan.
Labuhan Merapi
Gunung Merapi di utara Jogja juga punya perannya sendiri. Pada 1586, ketika Mataram terancam perang dengan Pajang, Merapi tiba-tiba meletus dan menghancurkan pasukan Pajang di Prambanan. Bisa dibilang, letusan itu jadi “penolong” Mataram. Karena itulah Merapi dihormati, dan setiap tahun Keraton mengirim ubarampe untuk dilabuh di sana.
Labuhan Lawu
Gunung Lawu menyimpan kisah Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Setelah kalah dari serangan Kerajaan Kaling, ia memilih menyingkir ke Lawu, bertapa, dan dikenal dengan gelar Sunan Lawu. Karena Brawijaya dianggap leluhur raja Mataram, Lawu pun masuk daftar penting lokasi Labuhan. Sampai sekarang, tiap upacara di sana, ubarampe diserahkan kepada juru kunci Gunung Lawu di Tawangmangu, Karanganyar.
Labuhan Dlepih Khayangan
Selain Parangkusumo, ada satu lagi tempat bertapa favorit Panembahan Senopati: Dlepih Khayangan di Wonogiri. Tempat ini juga pernah dipakai Sultan Agung dan Pangeran Mangkubumi. Bedanya, upacara Labuhan di sini tidak dilakukan tiap tahun, tapi hanya sekali dalam sewindu—tepatnya di tahun Dal. Itulah yang membuatnya disebut Labuhan Ageng, sementara Labuhan lain dikategorikan Labuhan Alit.
Kalau dipikir-pikir, Labuhan ini mirip cara orang Jawa bicara dengan alam dan leluhur. Ada doa, ada simbol, ada jejak sejarah yang terus diingat. Barang-barang yang dibuang bukan dimaksudkan untuk benar-benar hilang, tapi justru sebagai pengingat bahwa hidup itu harus selalu membersihkan diri dari sifat buruk.
Jadi lain kali kalau ke Parangkusumo, Merapi, Lawu, atau Dlepih, jangan cuma lihat pantainya, gunungnya, atau bukitnya. Ingat juga ada cerita ratusan tahun yang masih dirawat sampai sekarang lewat upacara Labuhan.